Rabu, 05 Januari 2011

Kesehatan lingkungan rumah sakit

LAPORAN TUTORIAL
SKENARIO 2

KELOMPOK TUTORIAL 5
Ketua : Dika Fitria (081610101075)
Scriber : Trimey Prasetyowati (081610101070)
Notulen : Yulianik Siskawati (081610101016)

Anggota :
Natasha Ghassany Khairina
Adelina Koyumi
Bryan Satria Prima
Yulia Adrianti
Henry Adhi Santoso
Redian Niken
Niken Andriani
Zefri Eka Setiaji
Muhammad Lutfan
Fahlefi Rizqia
Ranti Safira

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS JEMBER
2009


LAPORAN TUTORIAL
SKENARIO 2

KELOMPOK TUTORIAL 5
Ketua : Dika Fitria (081610101075)
Scriber : Trimey Prasetyowati (081610101070)
Notulen : Yulianik Siskawati (081610101016)

Anggota :
Natasha Ghassany Khairina
Adelina Koyumi
Bryan Satria Prima
Yulia Adrianti
Henry Adhi Santoso
Redian Niken
Niken Andriani
Zefri Eka Setiaji
Muhammad Lutfan
Fahlefi Rizqia
Ranti Safira

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS JEMBER
2009

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan hidayah dan inayahnya-Nya berupa kemampuan berpikir dan analisis sehingga laporan tutorial ini dapat terselesaikan dengan baik.
Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas tutorial dengan alasan-alasan penting yang menjadi pendorong untuk pengetahuan berdasarkan referensi-referensi yang mendukung. Laporan ini juga untuk mengantisipasi pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi di lingkungan Universitas Jember dan bagi semua pihak yang membutuhkan.
Laporan tutorial ini disusun melalui berbagai tahap baik dari pencarian bahan, text book dan dari beberapa referensi yang penulis dapat lainnya. Laporan ini tidak mungkin terwujud tanpa adanya komitmen dan kerjasama yang harmonis diantara para pihak yang terlibat. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini, penulis menyampaikan terimakasih kepada :
1. Drg. Surartono Dwiatmoko, M. M selaku tutor kelompok tutorial V
2. Teman-teman kelompok tutorial VII
Akhirnya tiada suatu usaha yang besar dapat berhasil tanpa dimulai dari usaha yang kecil. Semoga laporan ini bermanfaat, terutama bagi mahasiswa Universitas Jember sendiri dan di ,luar lingkungan Universitas Jember. Sebagai penanggung jawab dan pembuat makalah ini, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan serta pemyempurnaan lebih lanjut pada masa yang akan datang.

Jember, 3 Oktober 2009


Penulis





DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................................i
KATA PENGANTAR.............................................................................................ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
1.1 Latar Belakang.......................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................1
1.3 Tujuan....................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................3
MAPPING................................................................................................................8
BAB III PEMBAHASAN........................................................................................9
3.1 Pengertian Sanitasi.................................................................................9
3.2 Kriteria Sanitasi dan Hygiene................................................................9
3.3 Cara Mengelola Limbah Medik...........................................................10
3.4 Hubungan Pencemaran Lingkungan Terhadap Kesgilut.....................13
BAB IV KESIMPULAN........................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA













BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam mempelajari ilmu kedokteran gigi pencegahan, banyak hal yang patut kita perhatikan. Salah satunya adalah mengenai kesehatan lingkungan rumah sakit. Kesehatan lingkungan rumah sakit meliputi pengelolaan instalasi pengolahan limbah, higine dan sanitasi lingkungan sekitar, serta masalah pencemaran lingkungan rumah sakit.
Pengelolaan instalasi pengolahan limbah meliputi cara untuk mengolah limbah, proses pemanfaatan dari kegiatan (rumah tangga dan industri) yang berbahaya bagi kesehatan lingkungan, serta system daur ulang limbah agar tidak mencemari lingkungan.
Menjaga higine termasuk aspek non fisik yang patut diperhatikan. Hal tersebut meliputi suatu upaya yang menjaga, memelihara, dan mempertinggi derajat dari faktor-faktor lingkungan yang tidak menguntungkan. Sedangkan aspek fisiknya meliputi menjaga sanitasi, yaitu suatu upaya yang dilakukan untuk menjadikan keadaan yang lebih baik sehingga kesehatan semakin meningkat.
Hal terakhir mengenai kesehatan lingkungan rumah sakit yaitu pencemaran. Pencemaran adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau proses alam sehingga mutu kualitas lingkungan turun sampa pada tingkat tertentu yang menyebebkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian sanitasi?
2. Bagaimana kriteria sanitasi dan hygiene?
3. Bagaimana cara mengelola limbah medik?
4. Bagaimana hubungan pencemaran lingkungan terhadap kesgilut?


1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian sanitasi.
2. Untuk mengetahui kriteria sanitasi dan hygiene.
3. Untuk mengetahui cara pengelolaan limbah medik.
4. Untuk megetahui hunbungan pencemaran lingkungan terhadap kesgilut.


















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Sanitasi menurut kamus bahasa indonesia diartikan sebagai ‘pemiliharaan kesehatan’. Menurut WHO sanitasi lingkungan (environmental sanitation) adalah upaya pengendalian semua faktor lingkungan fisik manusia yang mungin menimbulkan atau dapat menimbulkan hal-hal yang merugikan bagi perkembangan fisik, kesehatan, dan daya tahan hidup manusia. Dalam lingkup rumah sakit (RS), sanitasi berarti upaya pengawasan berbagai faktor lingkungan fisik, kimiawi, dan biologik di RS yang menimbulkan atau mungkin dapat mengakibatkan pengaruh buruk terhadap kesehatan petugas, penderita, pengunjung maupun bagi masyarakat disekitar RS. Dari pengertian diatas maka sanitasi RS merupakan upaya dan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan di RS dalam memberikan layanan dan asuhan pasien yang sebaik-baiknya, karena tujuan dari sanitasi RS seringkali ditafsirkan secara sempit, yakni hanya ospek kerumahtanggaan (housekeeping) seperti kebersihan gedung, kamar mandi, dan WC, pelayanan makanan minuman. Ada juga kalangan yang menganggap bahwa sanitasi RS hanyalah merupakan upaya pemborosan dan tidak berkaitan langsung dengan pelayanan kesehatan di RS. Sehingga seringkali dengan dalih kurangnya dana pembangunan dan pemeliharaan, ada RS yang tidak memiliki sarana pemiliharaan sanitasi, bahkan cenderung mengabaikan masalah sanitasi. (http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/10sanitasiRS083.pdf/10SanitasiRS083.html)
Manfaat yang diperoleh dari adanya upaya-upaya dan sarana sanitasi, baik secara langsung maupun tidak langsung, antara lain :
1. Dapat mengurangi kemungkinan terjadinya re-infeksi dan infeksi silang di RS
2. Dapat mempercepat proses penyembuhan penderita
3. Akibat dari butir 1 dan 2 akan dapat dihemat biaya pengeluaran RS dan masyarakat yang terkena infeksi (pasien, petugas, dan pengunjung RS ).
4. Mengurangi dampak negatif limbah RS terhadap lingkungan dan masyarakat.
5. Rumah sakit yang saniter merupakan daya tank bagi masyarakat untuk menggunakannya.
6. Meningkatkan citra RS sebagai tempat bersih, sehat, dan tenang.
(http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/10sanitasiRS083.pdf/10SanitasiRS083.html)
Pembuangan limbah yang bejumlah cukup besar ini paling baik jika dilakukan dengan memilah-milah limbah kedalam berbagai kategori. Untuk masing-masing jenis kategori diterapkan cara pembuangan limbah yang berbeda. Prinsip umum pembuangan limbah rumah sakit adalah sejauh mungkin menghindari resiko kontaminasi dan trauma (injury).
Jenis-jenis limbah rumah sakitmeliputi bagian berikut ini (Shahib dan Djustiana, 1998 ).
a. Limbah klinik
Limbah dihasilkan selama pelayanan pasien secara rutin, pembedahan dan unit-unit resiko tinggi. Limbah ini mungkin berbahaya dan mengakibatkan resiko tinggi infeksi kuman dan populasi umum dan staff rumah sakit. Oleh karena itu perlu diberi label yang jelas sebagai resiko tinggi. Contoh limbah jenis tersebut ialah perban atau pembungkus yang kotor, cairan badan, anggota badan yang diamputasi, jarum-jarum dan semprit bekas, kantung urin dan produk darah.
b. Limbah patologi
Limbah ini juga dianggap beresiko tinggi dan sebaiknya diautoclaf sebelum keluar dari unit patologi. Limbah tersebut harus diberi label biohazard.
c. Limbah bukan klinik
Limbah ini meliputi kertas-kertas pembungkus atau kantong dan plastik tang tidak berkontak dengan cairan badan. Meskipun tidak menimbulkan resiko sakit, limbah tersebut cukup merepotkan karena memerlukan tempat yang besar unuk mengangkut dan membuangnya.
d. Limbah dapur
Limbah ini mencakup sisa-sisa makanan dan air kotor. Berbagai serangga seperti kecoa, kutu, dan hewan mengerat seperti tikus merupakan gangguan bagi staff maupun pasien di rumah sakit.
e. Limbah radioaktif
Walaupun limbah ini tidak menimbulkan persoalan pengendalian infeksi di rumah sakit, pembuangannya secara aman perlu diatur dengan baik.
(http://www.shantybio.transdigit.com/?Biology_-)

KONSEP SANITASI RUMAH SAKIT
Rumah Sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan yang di dalamnya terdapat bangunan, peralatan, manusia (petugas, pasien dan pengunjung) dan kegiatan pelayanan kesehatan, ternyata di samping dapat menghasilkan dampak positif berupa produk pelayanan kesehatan yang baik terhadap pasien, juga dapat menimbulkan dampak negatif berupa pengaruh buruk kepada manusia seperti pencemaran lingk mgan, sumber penularan penyakit dan menghambat proses penyembuhan dan pemulihan penderita. Untuk itu sanitasi RS diarahkan untuk
mengawasi faktor-faktor tersebut agar tidak membahayakan. Dengan demikian, sesuai dengan pengertian sanitasi, lingkup sanitasi RS menjadi luas mencakup upaya-upaya yang bersifat fisik seperti pembangunan sarana pengolahan air limbah, penyediaan air bersih, fasilitas cuci tangan, masker, fasilitas pembuangan sampah, serta upaya non fisik seperti pemeriksaan, pengawasan, penyuluhan, dan pelatihan. (http://www.pdfdatabase.com/index.php?q...pengolahan+limbah+medis)
Ben Freedman menyebutkan lingkup garapan sanitasi RS meliputi :
A. Aspek Kerumahtanggaan (Housekeeping) seperti :
1. Kebersihan gedung secara keseluruhan.
2. Kebersihan dinding dan lantai.
3. Pemeriksaan karpet lantai.
4. Kebersihan kamar mandi dan fasilitas toilet.
5. Penghawaan dan pembersihan udara.
6. Gudang dan ruangan.
7. Pelayanan makanan dan minuman.
B. Aspek khusus Sanitasi.
1. Penanganan sampah kering mudah terbakar.
2. Pembuangan sampah basah.
3. Pembuangan sampah kering tidak mudah terbakar.
4. Tipe incinerator Rumah Sakit.
5. Kesehatan kerja dan proses-proses operasional.
6. Pencahayaan dan instalasi listrik.
7. Radiasi.
8. Sanitasi linen, sarung dan prosedur pencucian.
9. Teknik-teknik aseptik.
10. Tempat cuci tangan.
11. Pakaian operasi.
12. Sistim isolasi sempurna.
C. Aspek dekontaminasi, disinfeksi dan sterilisasi.
1. Sumber-sumber kontaminasi.
2. Dekontaminasi peralatan pengobatan pernafasan.
3. Dekontaminasi peralatan ruang ganti pakaian.
4. Dekontaminasi dan sterilisasi air,makanan dan alat-alat pengobatan.
5. Sterilisasi kering.
6. Metoda kimiawi pembersihan dan disinfeksi.
7. Faktor-faktor pengaruh aksi bahan kimia.
8. Macam-macam disinfektan kimia.
9. Sterilisasi gas.
D. Aspek pengendalian serangga dan binatang pengganggu.
E. Aspek pengawasan pasien dan pengunjung Rumah Sakit :
1. Penanganan petugas yang terinfeksi.
2. Pengawasan pengunjung Rumah Sakit.
3. Keamanan dan keselamatan pasien.
F. Peraturan perundang-undangan di bidang Sanitasi Rumah Sakit.
G. Aspek penanggulangan bencana.
H. Aspek pengawasan kesehatan petugas laboratorium.
I. Aspek penanganan bahan-bahan radioaktif.
J. Aspek standarisasi sanitasi Rumah Sakit.
(http://www.pdfdatabase.com/index.php?q...pengolahan+limbah+medis)
Dari lingkup sanitasi yang begitu luas tersebut yang paling penting untuk dikembangkan adalah menyangkut :
a) Program sanitasi kerumahtanggaan yang meliputi penyehatan ruang dan bangunan serta lingkungan RS.
b) Program sanitasi dasar, yang meliputipenyediaan air minum, pengelolaan kotoran cair dan padat, penyehatan makanan dan minuman, pengendalian serangga, tikus dan binatang pengganggu.
c) Program dekontaminasi yang meliputi kontaminasi lingkungan karena mikroba, bahan kimia dan radiasi.
d) Program penyuluhan.
e) Program pengembangan manajemen dan perundang-undangan yang meliputi penyusunan norma dan standar serta pengembangan tenaga sanitasi RS melalui pelatihan, konsultasi.
(http://www.pdfdatabase.com/index.php?q...pengolahan+limbah+medis)





















MAPPING















BAB III
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Sanitasi
Sanitasi lingkungan adalah status kesehatan suatu lingkungan yang mencakup perumahan, pembuangan kotoran, penyediaan air bersih dan sebagainya. (Notoadmojo, 2003)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sanitasi diartikan sebagai “pemeliharaan kesehatan”
Sedangkan pengertian sanitasi lingkungan menurut WHO yaitu upaya pengendalian semua faktor lingkungan fisik manusia yang mungkin menimbulkan hal-hal yang merugikan bagi perkembangan fisik dan daya tahan tubuh manusia. Sanitasi sebagai pengawasan faktor dan lingkungan fisik manusia dapat menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap perkembangan jasmani.
Sanitasi adalah bagian dari sistem pembuangan air limbah, yang khususnya menyangkut pembuangan air kotor dari limbah rumah tangga, kantor, hotel, pertokoan (air buangan dari WC, air cucian, dan lain-lain). Selain berasal dari rumah tangga, limbah juga dapat berasal dari sisa-sisa proses industri, pertanian, perternakan, dan rumah sakit (sektor kesehatan). (Said, 1987:12)

2.2 Kriteria Sanitasi dan Hygiene
Hygiene merupakan ilmu yang berhubungan dengan masalah kesehatan. Contoh kriteria untuk hygiene meliputi:
• Menjaga kebersihan pakaian secara periodic
• Menjaga kebersihan kuku (pendek dan tidak dicat) dan tangan
Menurut peraturan Menteri Kesehatan, kriteria sanitasi dan hygiene meliputi kriteria kesehatan lingkungan. Contohnya penyehatan lingkungan bangunan dan halaman Rumah Sakit. Kriterianya yaitu:
a. Lingkungan bangunan:
• Bebas rokok
• Bersih
• Tersedia sarana sanitasi yang sesuai dengan kualitas dan kuantitas. Contohnya seperti mencegah perkembangbiakan hewan yang merugikan
• Lantai bersih, kedap air, dan mudah dibersihkan
• Pencahayaan: ruang-ruang harus diberi penerangan yang baik
• Ventilasi: suhu dan aliran kelembaban harus memberikan kenyamanan
• Tersedia fasilitas air minum dan air bersih
• Fasilitas toilet dan kamar mandi.
Tata laksana:
• Dibersihkan pagi dan sore
• Ruang pasien rutin dibersihkan
• Pembersihan debu agar tidak menyebar
• Percikan ludah, darah, dan lain-lain harus dibersihkan dengan antiseptik.
b. sanitasi hygiene makanan dan minuman
c. Pengelolaan limbah yang baik.

2.3 Pengolahan Limbah Medik
a. Limbah medis padat
1. Minimasi Limbah
• Reduksi limbah dimulai dari sumber
• Mengelola dan mengawasi penggunaan bahan kimia yang berbahaya dan beracun.
• Pengelolaan bahan kimia dan farmasi
• Pengelolaan limbah medis dimulai dari pengumpulan, pengangkutan, dan pemusnahan
2. Pemilahan, pewadahan, pemanfaatan kembali, dan daur ulang
• Limbah yang akan dimanfaatkan kembali harus dipisahkan dari limbah yang tidak dimanfaatkan kembali.
• Limbah benda tajam darus dikumpulkan dalam suatu wadah yang anti bocor, anti rusak dan tidak mudah dibuka.
• Jarum dan syringes harus dipisahkan.
3. Pengumpulan, pengangkutan, dan penyimpanan di lingkungan rumah sakit
• Pengumpulan dari setiap ruangan dengan menggunakan troli khusus yang tertutup
• Penyimpanan pada musim hujan paling lama 48 jam dan musim kemarau paling lama 24 jam.
4. Pengumpulan, pengemasan dan pengangkutan ke luar rumah sakit
• Pengelola harus mengumpulkan dan mengemas pada tempat yang kuat.
• Menggunakan kendaraan khusus
5. Pengolahan dan pemusnahan
• Limbah medis padat tidak diperbolehkan membuang langsung ke tempat pembuangan akhir limbah domestik sebelum aman bagi kesehatan.
• Pengolahan dan pemusnahan disesuaikan dengan kemampuan rumah sakit dan jenis limbah medis padat yang ada, dengan menggunakan otoklaf atau dengan pembakaran menggunakan insenerator.

b. Limbah medis nonpadat
1. Pemilahan dan pewadahan
• Harus dipisahkan dari limbah padat dan ditampung dalam kantong plastik warna hitam.
• Tempat pewadahan harus dilapisi kantong plastik warna hitam sebagai pembungkus limbah padat dalam lambang ”domestik” warna putih
2. Pengumpulan, penyimpanan, dan pengangkutan
• Dalam keadaan normal harus dilakukan pengendalian serangga dan binatang pengganggu yang lain minimal 1 (satu) bulan sekali.
3. Pengolahan dan pemusnahan
• Pengolahan dan pemusnahan limbha padat nonmedis harus dilakukan sesuai dengan persyaratan kesehatan.


c. Limbah cair
Kualitas limbah (efluen) rumah sakit yang akan dibuang ke badan air atau lingkungan harus memenuhi persyaratan baku mutu efluen sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor Kep-58/MenLH/12/1995 atau peraturan daerah setempat
d. Limbah gas
Standar limbah gas (emisi) dari pengolahan pemusnahan limbah medis padat dengan insenerator mengacu pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor Kep-13/MenLH/12/1995 atau peraturan daerah setempat.
Berdasarkan Keputusan Menteri kesehatan, pengelolaan limbah medis dapat dilakukan dengan cara:
• Minimasi
Dapat berupa pemilahan, pewadahan, pemanfaatan kembali, daur ulang, pengumpulan, pengangkutan, penyimpanan, pengemasan, pengolahan, dan pemusnahan
• Pembakaran dengan insenerator
Tapi langkah ini dapat menghasilkan gas dioksin yang sangat berbahaya.
• Ozonisasi.
Berikut ini langkah-langkah untuk mengolah limbah medis:
• Minimasi
Dapat dilakukan dengan cara menyeleksi bahan-bahan yang akan dibeli dan mengurangi bahan-bahan yang dapat menjadi limbah.
• Pemilahan
Memilah masing-masing jenis limbah. Contoh: limbah infeksius, limbah pathogen, limbah radioaktif, dll.
• Pewadahan
Pilih wadah yang sesuai dengan jenis limbhanya.
• Pemusnahan dan pengolahan
Pemusnahan dan pengolahan masing-masing limbah berbeda caranya.
- limbah infeksius : harus disterilisasi terlebih dahulu dengan menggunakan autoclave dan disinfektan
- limbah benda tajam : harus diolah dengan insenerator atau dengan kapsulisasi. Residu dapat dibuang ke tempat pembuangan akhir.
- limbah farmasi : dalam jumlah kecil dapat diolah dengan inseneratorpyrolitik, rotary kiln, dikubur secara aman, sanitary landfill, langsung dibuang ke TPA atau sarana air limbah (inersisasi). Sedangkan dalam jumlah besar, limbah dikembalikan ke distributor, kapsulisasi dalam drum logam, dan inersisasi.
- limbah sitotoksin : tidak boleh dibuang sembarangan, harus dikembalikan ke distributor, insenerasi dengan suhu tinggi (1200 C), insenerator harus dilengkapi dengan alat pembersih gas, degradasi kimia (rotary kiln) dengan cara menghilangkan nitrogen dan asam nitrogen.
- limbah kimiawi : harus dipisahkan berdasar komposisi. Contoh, limbah merkuri tidak boleh dibuang ke landfill dan diinsenerasi maupun dibakar.
- limbah radioaktif : harus dipilah dan dipisah dalam container.

2.4 Hubungan antara Pencemaran Lingkungan terhadap Kesgilut
Berdasarkan tingkat pencemaran:
• Mengakibatkan iritasi ringan pada pancaindera
• Pencemaran yang dapat menyebabkan reaksi dalam tubuh dan sakit
• Menimbulkan gangguan dan rasa sakit.
Contoh bahan kimia yang dapat mengganggu kesehatan gigi dan mulut:
• Limbah Pb
Dapat menurunkan resistnsi jaringan periodontal sehingga memperccepat terjadinya penyakit periodontal.
• Merkuri
Ada dalam kandungan amalgam, sehingga sangat berbahaya. Jika bereaksi dengan alloy, akan terjadi proses amalgamasi berupa keracunan.
BAB IV
KESIMPULAN

Dari tutorial skenario 2 kali ini, kami dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Kesehatan lingkungan rumah sakit adalah keadaan yang seimbang antara komponen-komponen dalam lingkungan di sekitar rumah sakit.
2. Komponen-komponen lingkungan rumah sakit yang mempengaruhi kesehatan lingkungan rumah sakit meliputi sanitasi dan higine, pengelolaan instalasi limbah, serta masalah pencemaran lingkungan rumah sakit.
3. Sanitasi lingkungan adalah upaya pengendalian semua faktor fisik lingkungan manusia yang dapat menimbulkan kerugian bagi perkembangan fisik dan daya tahan tubuh manusia.
4. Higine adalah suatu upaya untuk menjaga, memelihara, dan mempertinggi derajat kesehatan dsri faktor-faktor lingkungan yang tidak menguntungkan.
5. Pengelolaan instalasi limbah adalah suatu cara untuk mendaur ulang limbah yang berasal dari kegiatan manusia sehingga tidak mencemari lingkungan.
6. Pencemaran lingungan adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau proses alam sehingga mutu kualitas lingkungan turun sampa pada tingkat tertentu yang menyebebkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.










DAFTAR PUSTAKA

http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/10sanitasiRS083.pdf/10SanitasiRS083.html
http://www.shantybio.transdigit.com/?Biology_-
http://www.pdfdatabase.com/index.php?q...pengolahan+limbah+medis
http://www.ampl.or.id/detail/detail01.php?tp+artikel&jns...
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2004. Persyaratan Kesehatan Lingkungan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar