Jumat, 09 November 2012

kista Rongga Mulut


Kista Rongga Mulut

1.      Definisi
Kista adalah rongga patologik yang dapat berisi cairan, semisolid/semifluid, atau gas yang bukan berasal dari akumulasi pus maupun darah. Kista dapat terjadi dianatara tulang atau jaringan lunak. Dapat asymptomatic atau dapat dihubungkan dengan nyeri dan pembengkakan. Pada umumnya kista berjalan lambat dengan lesi yang meluas. Mayoritas kista berukuran kecil dan tidak menyebabkan pembengkakan di permukaan jaringan. Apabila tidak ada infeksi, maka secara klinis pembesarannya minimal dan berbatas jelas. Pembesaran kista dapat menyebabkan asimetri wajah, pergeseran gigi yang terlibat, hilangnya gigi yang berhubungan atau gigi tetangga. Dilihat dari gambaran radiograf, terlihat radiolusen yang dikelilingi lapisan radiopak tipis, dapat berbentuk unilokular atau multilokular.
2.      Klasifikasi
a.       Odontogenik
Kista odontogenik adalah kista yang berasal dari sisa-sisa epitelium pembentuk  gigi  (epitelium  odontogenik).  Seperti  kista  lainnya,  kista odontogenik dapat mengandung cairan, gas atau material semisolid.
Kista   odontogenik   disubklasifikasikan   menjadi   kista   yang berasal dari  developmental atau inflammatory. Kista  developmental yakni kista yang tidak diketahui penyebabnya, namun tidak terlihat sebagai hasil reaksi  inflamasi.  Sedangkan  kista  inflammatory merupakan  kista  yang terjadi karena inflamasi.
1)   Developmental
·   Dental lamina cyst (gingival cyst of infant)
·   Odontogenic cyst (primordial cyst)
·   Dentigerous cyst (follicular cyst)
·   Eruption cyst
·   Lateral periodontal cyst
·   Botryoid odotogenic cyst
·   Glandular odotogenic cyst
·   Gingival cyst of adults
·   Calcifying odontogenic cyst
2)   Inflamatory
·   Radicular cyst ( periapical cyst)
·   Residual cyst
·   Paradental cyst
·   Buccal bifurcation cyst
b.      Non-odontogenik
·         Naso- palatine duct cyst (incisive canal cyst)
·         Nasolabial cyst (nasoalveolar cyst)
·         Palatal cyst of infant
·         Lymphoepithelial cyst
·         Gastric heterotropic cyst
·         Tryglosal duct cyst
·         Salivary duct cyst
·         Maxillary antrum associated cyst
·         Soft tissue cyst
·         Pseudo cyst
·         Congenital cyst
·         Parasitic cyst

3.      Patogenesis Kista
a.       Inisiasi kista
Inisiasi kista mengakibatkan proliferasi batas epithelia dan pembentukan suatu kavitas kecil. Inisiasi pembentukan kista umumnya berasal dari epithelium odontogenic. Bagaimanapun rangsangan yang mengawali proses ini tidak diketahui. Faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan suatu kista adalah proliferasi epithelia, akumulasi cairan dalam kavitas kista dan resorpsi tulang.
b.      Pembesaran kista
Proses ini umumnya sama pada setiap jenis kista yang memiliki batas epithelium. Tahap pembesaran kista meliputi peningkatan volume kandungan kista, peningkatan area permukaan kantung kista, pergeseran jaringan lunak disekitar kista dan resorpsi tulang.
1)   Peningkatan volume kandungan kista
Infeksi pada pulpa non-vital merangsang sisa sel malasez pada membran periodontal periapikal untuk berproliferasi dan membentuk suatu jalur menutup melengkung pada tepi granuloma periapikal, yang pada akhirnya membentuk suatu lapisan yang menutupi foramen apikal dan diisi oleh jaringan granulasi dan sel infiltrasi melebur. Sel-sel berproliferasi dalam lapisan dari permukaan vaskular jaringan penghubung sehingga membentuk suatu kapsul kista. Setiap sel menyebar dari membran dasar dengan percabangan lapisan basal sehingga kista dapat membesar di dalam lingkungan tulang yang padat dengan mengeluarkan faktor-faktor untuk meresorpsi tulang dari kapsul yang menstimulasi pembentukan osteoclast.
2)   Proliferasi epitel
Pembentukan dinding dalam membentuk proliferasi epitel adalah salah satu dari proses penting peningkatan permukaan area kapsul dengan akumulasi kandungan seluler. Pola mulrisentrik pertumbuhan kista membawa proliferasi sel-sel epitel sebagai keratosis mengakibatkan ekspansi kista. Aktifitas kolagenase meningkatkan kolagenalisis. Pertumbuhan tidak mengurangi batas epitel akibat meningkatnya mitosis. Adanya infeksi merangsang sel-sel seperti sisa sel malasez untuk berploriferasi dan membentuk jalur penutup. Jumlah lapisan epitel ditentukan oleh periode viabilitas tiap sel dan tingkat maturasi serta deskuamasinya.
3)   Resorpsi tulang
Seperti percabangan sel-sel epitel, kista mampu untuk membesar di dalam kavitas tulang yang padat dengan mengeluarkan fakor resorpsi tulang dari kapsul yang merangsang fungsi osteoklas (PGE2). Perbedaan ukuran kista dihasilkan dari kuantitas pengeluaran prostaglandin dan faktor-faktor lain yang meresorpsi tulang.
4.      Gambaran Secara Umum
Menurut  Cawson  (2002)  kista  dentigerous merupakan kista kedua yang paling banyak terjadi setelah kista radikular, yakni dengan jumlah 15-18%. Pada tahun 2006,  dengan  jumlah  kasus  695  ditemukan  bahwa  persentase  kista odontogenik yang terdapat  di Pitie-salpetriere University Hospital,  Paris, Prancis yaitu :
1.   Kista periodontal 53,5%
2.   Kista dentigerous 22,3%
3.   Keratosis odontogenik 19,1%
4.   Residual cyst 4,6%
5.   Kista lateral periodontal 0,3%
6.   Kista glandular odontogenik 0,2%
Kista  tumbuh  secara  ekspansi  hidrolik  dan  dilihat  dari  gambar radiografik  biasanya  menunjukkan  lapisan  tipis  radioopak  yang mengelilingi  radiolusensi.  Adanya  proses  kortikasi  yang  terlihat  secara radiografik adalah merupakan hasil  dari  kemampuan tulang disekitarnya untuk  membentuk  tulang  baru  lebih  cepat  dibandingkan  proses resorpsinya, hal inilah yang terjadi selama perluasan lesi.

 PERBEDAAN ABSES DAN KISTA RONGGA MULUT

Kista
Abses
Radiologi :
Berbentuk membulat atau oval unilokuler atau multilokuler
 Bentuknya tidak beraturan
berbatas jelas radiolusen
Tidak berbatas jelas
Margin : terdapat peripheral cortication (radio-opaque margin)
Margin : tidak terdapat peripheral cortication (radio-opaque margin
Tanda klinis :
Asymtomatic (kecuali pada kista yang beradang/terinfeksi)
Terdapat symtom (terasa sakit)
Berkembang dalam waktu yang lama
Berkembang dalam waktu yang singkat

REFERENSI
            Aryati, R. 2006. Uji Kepekaan Mikroorganisme Yang Diisolasi Dari Abses Di Rongga Mulut Terhadap Antimikroba. Tidak Diterbitkan. Sumatra Utara : Universitas Sumatra Utara
Canina, V. 2010. Kista Odontogenik. Tidak Diterbitkan. Aceh : Universitas Syah Kuala
Cawson, R.A., Odel, E.W., Porter, J., 2002,Cawson’s Essentials of Oral Pathology  and Oral Medicine, 7th ed., Elsevier, Science, Limited, Edinburgh
Cilmiaty, R. 2009. Infeksi Odontogen. WWW Dental World [serial on line] http://cilmiaty.blogspot.com/2009/04/infeksi-odontogen-by-risya-cilmiaty-ar.html  [6 November 2012]
            Daud ME., Karasutisna T. 2001. Infeksi odontogenik 1th ed. Bandung. Bagian Bedah Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Unpad. p.1-12
Fragiskos, F.D. 2007. Oral Surgery. Heidelberg : Springer.
Lopez-Piriz, R., dkk.2007. Management of Odontogenic Infection of Pulpal and Periodontal Origin. Med Oral Patol Oral Cir Bucal 2007;12:E154-9.
Pedersen, G.W. 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Alih Bahasa : Purwanti dan Basoeseno.” Oral Surgery 1st ed”. Jakarta : EGC.

Kamis, 12 Mei 2011

MANIFESTASI AIDS DIRONGGA MULUT

sebagai drg pastinya qta harus tau gejala apa aja yang ada di rongga mulut pasien HIV AIDS.......
Lesi mulut biasanya diitemukan pada penderita AIDS dan benar-benar dapat ditunjukkan sebagai gambaran dini dari penyakit ini. Penderita AIDS agaknya menampilkan semua gambaran yang timbul pada berbagai kelainan imunodefisiensi, dengan berbagai kekecualian berupa hairy leukoplakia dab sarcoma Kaposi.
Infeksi Jamur
Infeksi yang terjadi dengan spesies yang paling umum Candida Albicans meskipun spesies kandidayang lainnya dapat terlibat. Semua varietas kandidiasis mulut telah dilaporkan pada AIDS tetapi ternyata hiperplastik kronik dan juga jenis atropik lebih sering ditemukan dibanding dengan varietas jenis pseudomembran.
Lesi-lesi jamur lainnya dapat terjadi tetapi jarang (misalnya histoplasmosis dan kriptokokosis). Infeksi karena jamur (Oral Candidiasis)
Kandiasi nulut sejauh ini merupakan tanda di dalam mulut yang paling seringdijumpai baik pada penderita AIDS maupun AIDS related complex (ARC) danmerupakan tanda dari manifestasi klinis pada penderita kelompok resiko tinggipadalebih 59% kasus.Kandiasis mulut pada penderita AIDs dapat terlihat berupa oral thrush, acuteatrophic candidiasis, chronic hyperplastic candidiasis, dan stomatis angularis(Perleche).
Infeksi virus
Virus herpes simplex
Lesi-lesi herpes mulu yang berulang serinf ditemukan pada langit-langit ataupun gusi penderita AIDS, dimulai sebagai vesikula dengan rasa nyeri sampai tukak. Perlu diingat bahwa lesi-lesi herpes intra oral berulang adalah sangat tidak umum terjadi (tidak seperti herpes labialis berulang). Lesi-lesi orofasial yang disebabkan herpes zoster juga sudah dilaporkan tetapi agak jarang.
Virus Epstein-Barr
Hairy leukoplakia merupakan plak-plak putih yang menonjol, biasanya mengenai lidah dan secara klinik sama dengan kandidiasis hiperplastk kronik.bagaimanapun juga, jelas berhubungan dengan virus Epstein-Barr yang ditemukan pada sel-sel epitel. Lesi-lesi yang sama belum dilaporkan pada populasi umum.
Virus papiloma
Hal ini merupakan virus kutil biasa yang menyebabkan bercak-bercak tunggal atau multiple dalam mulut penderita AIDS.
Infeksi bakteri
Infeksi karena bakteri dapat berupa HIV necrotizing gingivitis maupun HIV
periodontitis.
a. HIV necrotizing gingivitis
HIV necrotizing gingivitis dapat dijumpai pada penderita AIDS maupunARC. Lesi ini dapat tersembunyi atau mendadak disertai pendarahan waktumenggosok gigi, rasa sakit dan halitosis.
Necrotizing gingivitis paling sering mengenai gingiva bagian anterior. Padasituasi ini, pabila interdental dan tepi gingiva akan tampak berwarna merah,bengkak, atau kuning keabu-abuan karena nekrosis, bakan sering terjadinecrotizing ulcrerative gingivitis yang parah dan penyakit periodontal yangprogresif sekalipun kebersihan mulut terjaga dengan baik dan walaupun telah
diberikan antibiotika.
b. HIV periodontitis
Penyakit periodontal yang berlangsung secara progresif mungkin merupakan indicator awal yang dapat ditemukan pada infeksi HIV. Dokter gigi seyogyanya mendiagnosa secara dini proses kerusakan tulang alveolar tersebut dengan tetap mempertimbangkan kemungkinan adnya infeksi HIV. Hal ini disebabkan terutama oleh adanya fakta bahwa sejumlah penderita AIDS yang mengalami kerusakan tulang alveolar yang cepat.

Neoplasma
Sarkoma kaposi yang berhubungan dengan AIDS tampak sebagai penyakit
yang lebih ganas dan biasanya telah menyebar pada saat dilakukan diagnosa awal.
Kira-kira 40% penderita AIDS dengan sarcoma kaposi akn meninggal dalam waktu
kurang lebih satu tahun dan biasanya disertai dengan infeksi opotunistik yang lain
(misalnya pneumocystic carinii, jamur, virus, bakteri).
Manifestasi mulut sarcoma kaposi biasanya merupakan tanda awal AIDS dan
umumnya (50%) ditemukan dalam mulut pria homoseksual. Selain mulut, sarcoma
ini juga dapat ditemukan dikulit kepala dan leher. Sarkoma kaposi pada mulut
biasanya terlihat mula –mula sebagai macula, nodul dan plak yang datar atau
menonjol, biasanya berbewntuk lingkaran dan berwarna merah atau keunguan.
Terletak pada palatum dan besarnya dari hanya beberapa millimeter sampai
centimeter. Bentuknya tidak teratur, dapat tunggal atau multiple dan biasanya
asintomatik, sehingga baru disadari oleh pasien bila lesi sudah menjadi agak besar.
Kelainan lain didalam mulut
Kelainan-kelainan ini tidak diketahui sebabnya, dapat timbul berupa :
a. Stomatis aphtosa rekuren, terutama tipe mayor.
b. Ulkus nekrotik yang meluas sampai ke fausia.
c. Xerostomia
d. Pembesaran kelenjar parotis, terutama penderita AIDS anak-anak.
e. Idiophatic thrombocytopenia purpura.
f. Palsi wajah
g. Addisonian mucosal hyperpigmentation
h. Limfadenopati submandibula.
i. Hiperpigmentasi melanotik
j. Penyembuhan luka yang lama
k. Bayi yang lahir dengan infeksi AIDS dapat mengalami deformasi wajah


Gingivitis dan Periodontitis
Gingival mungkin menunjukkan perubahan-perubahan yang sama dengan gingivitis nekrotik ulseratif akut, kecuali semuanya ini mungkin tertutupi oleh periodontitis yang berkembang cepat. Kondisinya dapat menimbulkan rasa sakit dan berkaitan dengan hilangnya jaringan lunak dan tulang penyangga dengan cepat, yang berakhir dengan lepasnya gigi.

SIK (semen ionomer kaca)

Semen ionomer kaca (SIK) merupakan salah satu bahan restorasi yang banyak digunakan oleh dokter gigi karena mempunya beberapa keunggulan yaitu preparasinya dapat minimal, ikatan dengan jaringan gigi secra khemis, melepas flour dalam jangka panjang, estetiss, biokompatibel, daya larut rendah, translusen, dan bersifat anti bakteri (Mount,1995).
Ada tiga jenis semen ionomer kaca berdasarkan formulanya dan potensi penggunaannya. Tipe I untuk bahan perekat, tipe II untuk bahan restorasi dan tipe III untuk basis atau pelapik. Juga ada semen ionomer kaca yang pengerasannya dilakukan oleh sinar. Jenis ini juga disebut sebagai semen ionomer kaca modifikasi resin sebab melibatkan resin yang dikeraskan sinar dalam formulanya.
Komposisi SIK terdiri atras bubuk dan cairan. Bubuk terdiri atas kaca kalsium fluoroalmuminosilikat yang larut asam dan cairannya merupakan larutan asam poliakrilik. Reaksi pengerasan dimulai ketika bubuk kaca fluoroaluminosilikat dan larutan asam poliakrilik dicampur, kemudian menghasilkan reaksi asam-basa dimana bubuk kaca fluoroaluminosilikat sebagai basanya.
Air memegang peranan penting selama proses pengerasan dan apabila terjadi penyerapan air maka akan mengubah sifat fisik SIK. Saliva merupakan cairan didalam rongga mulut yang dapat mengkontaminasi SIK selama proses pengerasan dimana dalam periode 24 jam ini SIK sensitif terhadap cairan saliva sehingga perlu dilakukan perlindungan agar tidak terkontaminasi. Kontaminasi dengan saliva akan menyebkan SIK mengalami pelarutan dan daya adhesinya terhadap gigi akan menurun. SIK juga rentan terhadap kehilangan air beberapa waktu setelah penumpatan. Jika tidak dilindungi dan terekspos oleh udara, maka permukaannya akan retak akibat desikasi. Baik desikasi maupun kontaminasi air dapat merubah struktur SIK selama beberapa minggu setelah penumpatan.
Semen ini dipergunakan untuk tambahan kavitas yang ditimbulkan oleh erosi dan abrasi (tanpa dilakukan preparasi kavitet), sebagai tambahan fissure, sebagai lining lining semen, misalnya ssemen glass ionomer dapat diet-etch dengan asam fosfor. Semen yang di-etch ini dapat merekatkan resin komposit pada dentin oleh karena terbentuknya ikatan mikromekanis antara komposit dan semen, sebagai bahan restorasi gigi decidui, sebagai bahan reparasi sekeliling pinggir restorasi lama, dan sebagai luting semen terutama pada perpemakaian dengan restorasi yang diberi tin-plate.

macam bahan gigi tiruaN

Gigi tiruan berdasarkan bahan yang digunakan :
1. All porcelain bridge
Bahan porselen adalah bahan yang sangat populer saat ini. Kelebihannya adalah pilihan gradasi warna yang sangat estetis dan permukaannya mengkilat. Bahan porselen sulit dibedakan dengan gigi yang asli. Kekuatannya lebih besar daripada akrilik tetapi tidak sekuat logam. Kekurangan dari bahan porselen ini bersifat rapuh dan sehingga tidak dapat diasah dan tidak dapat diletakkan pada permukaan kunyah gigi belakang. Biasaya juga digunakan untuk gigi yang memerlukan estetik tinggi. Bahan porselen ini tidak cocok digunakan pada pasien dengan kebiasaan buruk bruxism karena gesekan yang terus menerus dengan gigi antagonisnya akan menyebabkan porcelain cepat pecah.
2. All acrylic bridge
Bahan akrilik biasanya digunakan untuk pembuatan mahkota jaket sementara (menunggu mahkota jaket permanen). Bahan akrilik biasanya dikombinasikan dengan logam karena sifat bahan akrilik tidak kuat menahan beban kunyah. Kelebihan dari bahan akrilik warnanya dapat disesuaikan dengan gigi asli, namun mudah berubah warnanya. Harganya pun murah tetapi tampilan menarik. Kontraindikasi dari bahn ini adalah tidak digunakan pada gigi yang memiliki beban kunyah yang besar karena kekerasan akrilik hanya 1/16 kekerasan dentin. Gigi tiruan yang menggunakan bahan ini juga tidak cocok digunakan pada penderita dengan bruxism.
3. All metal bridge
Gigi tiruan permanen yang terbuat dari logam atau emas mempunyai kekuatan yang sangat bagus bahkan dapat bertahan sampai bertahun-tahun, keuntungan yang lain adalah logam dan emas tidak korosif dan tidak berkarat. Tetapi gigi tiruan dari bahan logam dan emas tampilan warnanya sangat berbeda dengan gigi asli. Biasanya diindikasikan pada gigi posterior dan kontraindikasinya adalah gigi abutmen yang digunakan mempunyai ketebalan dentin yang kecil.
Gold Crowns
Keuntungan:
- metode simple karena struktur gigi yang dkurangin lebih minimal.
- Lebih tahan lama pada saat tekanan berat seperti menggigit dan mengunyah.
- Mudah menyesuaikan sesuai daerah di mana gigi dan mahkota memenuhi
- Sehat lingkungan untuk jaringan gusi
Kerugian:
- estetik kurang karena warna gigi tidak seperti gigi asli.
4. Kombinasi (porselen dan metal)
Porcelain fuse to metal adalah jenis hibrida antara mahkota logam dan mahkota porselen. Mereka terutama dipilih untuk gigi depan tetapi tidak menutup kemungkinan juga digunakan pada gigi posterior. Porcelen fuse to metal ini lebih kuat daripada all porselen bridge. Meskipun porcelen fuse to metal dipilih untuk penampilan yang sangat baik karena keestetikannya, ada beberapa kelemahan utama yang terkait dengan logam menyatu di dalamnya. Berikut adalah beberapa kelemahan dicatat oleh pengguna dan dokter gigi mahkota ini:
• Ketidaknyamanan-gigi mungkin sensitif setelah prosedur. Jika gigi dimahkotai masih mengandung beberapa saraf, saraf yang akan sensitif terhadap panas dan dingin.
• Ada beberapa kasus di mana permukaan mahkota menciptakan keausan pada gigi antagonisnya. Hal ini kadang-kadang menjadi begitu menonjol sehingga tidak dapat diawasi.
Bagian porselen bisa terkelupas mati dan logam yang mendasari dapat terlihat sebagai garis gelap
5. In Ceram (keramik bridge)
Terbuat dari porselen alumina yang sangat tangguh. Memiliki estetika yang sangat baik dan cukup kuat untuk dapat disemen dengan semen gigi tradisional.
SPINELL - untuk kasus anterior unit tunggal yang memerlukan estetika unggul dan tembus.
ALUMINA - untuk posterior unit tunggal dan kasus anterior, dan sampai restorasi 3-unit jembatan.
Zirkonia - untuk posterior unit tunggal dan kasus anterior, dan sampai restorasi 5-unit jembatan.

Minggu, 20 Maret 2011

Terapi Rasa Sakit Karena perawatan Orthodontik

Faktor penyebab rasa sakit
Teori Pintu Gerbang dari Melzack dan Wallmengatakan bahwa terdapat tiga komponen yang berperan dalam terjadinya rasa sakit. Komponen pertama adalah sensori diskriminatif, yang menentukan informasi persepsi yang diterima seseorang. Informasi tersebut mencakup lokasi, besarnya dan waktu perangsangan. Kedua adalah komponen pengaruh motivasional, yang memberikan motivasi bertindak sebagai hasil dari informasi ini. Ketiga adalah komponen kognitif evaluatif, yang dipengaruhi oleh pengalaman lampau dan dugaan.

Usaha mengontrol rasa sakit
Uasaha ,engurangi rasa sakit dapat dilakukan dengan memodifikasi factor psikologi. Kecemasan dapat dikurangi dengan pemberian informasi. Adanya ketidakpastian menyebabkan seseorang hanya memiliki sedikit gambaran tentang apa yang akan terjadi pada dirinya. Hal ini menyebabkan seseorang memiliki sedikit kesempatan untuk merubah tingkah laku dirinya sendiri atau dokter giginya. Dokter gigi sebaiknya memberikan dukungan emosional ketika menjelaskan prosedur perawatan. Adanya rasa aman dan percaya mengurangi kecemasan pasien.
Teori pintu gerbang mengatakan bahwa terdapat 3 komponen yang berperan dalam membangun rasa sakit; sensori diskriminatif, afektif motivasional, dan kognitif evaluatif. Modifikasi dari ketiga komponen ini diharapkan dapat mengurangi stress yang dirasakan oleh pasien. Ada beberapa teknik yang mempengaruhi yang mempengaruhi komponen sensori diskrimantif. Alat-alat dirancang menggunakan kawat diameter kecil dan ringan yang mengeluarkan gaya lebih kecil trhadap gigi. Bahan anti inflamasi non steroid seperti aspirin dan ibuprofen telah digunakan untuk menghilangkan rasa sakit. Penelitian terhadap 93 pasien yang menjalani perawatan ortodontik menemukan bahwa 63% pasien berkurang rasa sakitnya sesudah mengunyah permen analgesic. Obat analgesic yang diberikan sebelum aplikasi alat ortodontik memblok impuls saraf afferent sebelum mencapai system saraf pusat. Penambahan 1 atau 2 dosis obat analgesic sesudah aplikasi alat ortodontik menyempurnakan control rasa sakit.
Komponen afektif motifasi mengacu pada cara orang bereaksi terhadap informasi sensori yang mereka terima. Mereka dapat bereaksi dengan strees yang berlebihan bila informasi sensori yangf mereka terima dianggap sebagai suatu ancaman terhadap kehidupannya. Bila informasi tersebut dianggap lebih netral, tanpa konotasi afektif, pasien mungkin merasa bahwa ia dapat mengatasi situasi dengan cara tertentu. Pengalihan perhatian merupakan salah satu cara pengendalian komponen afektif motivasi. Sebelum perawatan ortodontik pasien sebaiknya di motivasi dengan cara memberi informasi keadaan maloklusinya dan membayangkan hasil perawatan yang akan dicapai. Adanya perhatian pasien terhadap keadaan mal oklusinya membantu dalam mengontrol emosi ketidaknyamanan perawatan ortodontik. Peningkatan pengendalian memberi kesempatan pada pasien untuk mengendalikan tindakan dokter gigi. Pengendalian bukan berarti menghindari situasi melainkan kemampuan untuk mempengaruhi cara mengalaminya.
Komponen kognitif evaluatif berkaitan dengan evaluasi keparahan masukan sensori. Bayangan pasien atas intensitas stimulus yang akan dirasakan adalah sangat penting. Sebagian kendala yang dihadapi p[asien selama menjalani perawatan diberi label “menyakitkan” sehingga stimulus yang dialami diterima sebagai rasa sakit. Dua metodemengalihkan bayangan rasa sakit pada perawatan gigi, yaitu hipnotis dan mempersiapkan pasien untuk perawatan gigi. Persiapan pasien pada perawatan ortodontik dapat dilakukan dengan cara memberitahu kemungkinan rasa sakit yang mungkin akan dialami dan cara mengatasinya. Adanya persiapan ini membantu pasien dalam mengontrol kecemasan. Seorang pasien yang tidak diberitahu tentang bagaimana cara perawatan dan apa yang dirasakan sesudahnya menimbulkan ketidakpastian. Hal ini mungkin meningkatkan rasa sakit yang dialami.

Masalah Yang Dihadapi Dalam Perawatan Orthodonti Lepasan

Dokter gigi mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap keberhasilan perawatan karena dia yang memilih kasus, merencakan perawatan, mendsain peranti dan menatalaksanakan perawatan. Dalam penatalaksanaan perawatan, kemungkina keberhasilan perawatan dipengaruhi tiga hal saling berkaitan:
1. Pasien
2. Peranti
3. Pergerakan gigi

1.pasien
perbahan pada pasien, misalnya gigi susu yang tanggal atau gigi permanen yang erupsi yang dapat menyebabkan peranti tidak cocok lagi. Sebagian pasien tidak mau memakai peranti seperti yang diharuskan. Bila pasien tidak mau memakai peranti keadaan yang dapat diamati adalah:
-peranti masih kelihatan seperti baru, lempeng akrilik tetap mengkilap
-pasien teralihat tidak terampil memasang peranti
-peranti tidak sesuai
-tidak ada bekas oklusi pada peninggian gigit anterior
Sebagian pasien kurang memperhatikan kebersihan mulutnya sehingga giginya kurang bersih dan dapat timbul gingivitis marginalis kronis. Kadang- kadang keradangan gingival berlanjut dan terjadi penebalan gingival. Dapat juga terjadi akulukasi plak pada bagian lempeng akrilik yang menempel pada mukosa. Bila terjadi keadaan ini maka yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kebersihan mulut dan membersihkan peranti yang dipakai. Bila keadaan seperti ini masih tetap terjadi maka pasien dianjurkan untuk tidak memakai peranti beberapa hari berturut-turut.
Penebalan gingival palatal sering dijumpai pada saat retraksi gigi anterior atas, bila terdapat ruangan yang sempit diantara gigi dan lempeng akriik, saa gigi bawah tersebut akan berkontak dengan peninggian gigit anterior. Gigi anterior bawah beroklusi dengan peninggian gigit anterior yang menyebabkan lempeng akrilik goyang dan terjadi gingivitis hiperplastik. Mukosa cenderung menumpuk ke palatal karena gigi ditarik ke palatal. Untuk mengurangi hal ini perlu diperiksa apakah peninggian gigitann telah cukup diasah dan apakah retensi peranti cukup bagus sehingga dapat menahan peranti agar tidak bergerak pada saat pasien beroklusi. Sebaiknya dilakukan pengurangan tumpang gigit dulul sebelum meretraksi gigi atas
Pemakaian peranti lepasan akan menambah daerah stagnasi yang akan dapat menyebabkan kemungkinan terjadinya karies. Keadaan ini dapat ditanggulangi dengan menjaga kebersihal mulut sebaik mungkin. Daerah rawan karies adalah permukaan gigi yang tertutup peninggian gigit baik anterior maupun posterior. Pemeriksaan gigi secara rutin hendaknya dilakukan untuk mencegah terjadinya karies

2.peranti
Sebelum peranti disesuaikan atau diaktifkan, perlu diperhatikan keadaan berbagai komponen perranti lepasan yaitu: retensi, komponen aktif dan lempeng akrilik. Perlu disadari bila peranti tidak dipakai terus-menerus dapat terjadi distorsi.
Komponen retensi perlu diperiksa karena sesudah dipakai beberapa lama kemungkinan dapat agak mendendor karena peranti dilepas dan dipasang. Bila peranti kurang retentive, komponen retentive perlu disesuaikan. Jangan menjadikan penyesuaian komponen retentive sebagai tindakan rutin karena tindakan ini akan menyebabkan peranti kehilangan daya retentifnya bila penyesuaian berlebihan
Komponen aktif perlu diperiksa, misalnya kontak pegas atau komponen aktif lain dengan gigi. Diperlukan penyesuaian apabila ditenggarai gigi bergerak ke arah yang tidak diinginkan. Untuk pengukuran yang akurat dapat digunakan tension gauge. Cara yang banyak dipakai adalah dengan memperkirakan secara langsung defleksi pegas
Periksalah lempeng akrilik apakah gigi bekas bergerak; bila gigi terhalang lempeng akrilik dapat digerinda. Bila peninggian gigit perlu ditebalkan baik untuk membebaskan halangan oklusal maupun untuk mengurangi tumpang gigit, penambahan cold-cured acrylic perlu dilakukan. Lempeng akrilik sebelah palatal gigi anterior atas yang tidak cukup digerinda dapat menyebabkan terjepitnya mukosa di antara geligi dan lempeng akrilik pada saat retraksi gigi anterior atas
Penjangkaran intraoral direncanakan pada saat mendesain peranti. Bila penjangkaran kurang mungkin perlu ditambah dengan penjangkaran ekstraoral. Bila terlihat ada kehilangan penjangkaran perlu penyesuaian penjangkaran ekstraoral maupun waktu pemakaiannya perlu ditambah

3.pergerakan gigi
Anggapan umum yang dapat diterima adalah gerakan gigi 1 mm tiap bulan bila peranti dipakai terus menerus. Bila peranti tidak dipakai terus menerus pergerakan gigi juga akan lebih lambat
meskipun peranti telah dipakai terus menerus tetapi kadang-kadang terjadi pergerakan gigi yang tidak sesuai dengan yang diharapkan akibat beberapa hal, yaitu:
-arah pergerakan yang salah. Biasanya disebabkan penempatan pegas yang salah, khususnya kontak antara gigi gelgi dan lengan pegas. Perlu diperhatikan pada saat melakukan aktivasi dengan melakukan penyesuaian letak pegas bilamana masih memungkinkan. Apabila tidak memungkinkan maka pegas perlu diganti
-gerakan tipping yang berlebihan. Peranti lepasan menghasilkan gerakan tipping oleh karena fulcrum terletak kurang lebih sepertiga akar. Pemakaian kekuatan yang berlebihan dan jauh dari tepi gingiva menyebabkan fulcrum bergeser ke arah mahkota. Keadaan yang paling penting untuk diperhatikana dalah inklinasi gigi semula. Bila letak gigi semula sudah tidak menguntungkan, gerakan tipping yang berlebihan serta oklusi yang kurang menguntungkan akan mudah terjadi.
-Kehilangan penjangkaran. Merupakan salah satu penyebab kegagalan perawatan ortodontik. Diperlukan pemeriksaan penjangkaran pada setiap kunjungan. Agar gigi penjangkaran tidak bergerak ke mesial perlu tindakan antara lain menggerakkan gigi sesedikit mungkin pada suatu saat atau suatu kuadran. Kekuatan yang berlebihan akan menyebabkan gigi penjangkar bergerak ke mesial. Pegas bukal dari kawat berpenapang 0,7 mm yang diaktifkan seanyak 3 mm akan memberikan kekuatan yang besar sehingga akan terjadi kehilangan penjangkaran.

Daftar pustaka
Rahardjo, pambudi. 2009. Peranti Ortodonti Lepasan. Surabaya: Airlangga University Press

Jumat, 18 Maret 2011

GIGI BERDESAKAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kondisi ketidakteraturan gigi terkadang menjadi polemik bagi sebagian kalangan. Salah satu ketidakteraturan tersebut adalah gigi berjejalan atau yang sering disebut dengan crowding teeth. dalam dunia kedokteran gigi.crowding teeth ini merupakan maloklusi yang disebabkan tidak proporsionalnya dimensi mesiodistal secara keseluruhandari gigi geligi dengan ukuran maksila atau mandibula sehingga akan mengakibatkan perubahan lengkung gigi. Karena maloklusi disebabkan oleh beberapa faktor yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan gigi jaringan sekitar mulut dan tubuh secara keseluruhannya. Maloklusi ini sering dijumpai pada pasien anak-anak dalam tugas dokter gigi baik di klinik maupun di praktek pribadi
Maloklusi atau anomaly dentofasial merupakan suatu penyimpangan dalam pertumbuhan dentofasial yang dapat mengganggu fungsi pengunyahan, penelanan, bicara dan keserasian wajah. Sama seperti maloklusi crowding teeth mengganggu fungsi penyunyahan, bicara, estetik jugamengakibatkan terjadinya penyakit gigi dan jaringan gusi. Dalam keadaan yang yang parah crowding teeth ini dapat mengakibatkan cacat wajah sehingga dapat mengakibatkan gangguan psikologis bagi para penderitanya.
Ada banyak faktor yang mendukung terjadinya crowding teeth yaitu :
A. Penyebab tidak langsung
1. Faktor genetik.
2. Faktor kongenital
3. Gangguan keseimbangan kelenjar endokrin
4. Penyakit
B. Penyebab langsung
1. Gigi susu yang tanggal sebelum waktunya
2. Gigi yang tidak tumbuh/tidak ada.
3. Gigi yang berlebih
4. Tanggalnya gigi tetap
5. Gigi susu tidak tanggal walaupun gigi tetap penggantinya telah tumbuh (persistens)
6. Bentuk gigi tetap tidak normal.
7. Kebiasaan-kebiasaan buruk.
Sehubungan dengan faktor penyebab terjadinya crowding teeth ini maka untuk mencegah terjadinya crowding teeth hendaknya sebelum terjadi harus dilakukan tindakan pencegahan. Karena maloklusi dapat dihindari dengan melakukan pencegahan tersebut.
Apabila ketidakteraturan pada gigi terjadi karena kebiasaan buruk, tentunya kebiasaan buruk itu harus dihilangkan terlebih dhaulu, lalu dilanjutkan dengan perawatan orthodonsi. Pasien dapat datang ke dokter gigi umum atau spesialis ortodonsi untuk merawat gigi yang tidak beraturan. Dokter gigi nanti akan melihat kelainan susunan gigi pasien lalu merencanakan perawatan yang akan diberikan. Apabila kasus dianggap berat, biasanya pasien akan dirujuk ke dokter spesialis ortodonsi.
Terkadang ada beberapa kasus yang memerlukan tindakan bedah terlebih dahulu seperti pencabutan atau tindakan bedah lain yang dikenal dengan istilah bedah orto. Perawatan dapat dikatakan berhasil bila susunan gigi dan oklusi yang normal sudah tercapai. Untuk keterangan lebih jelas dapat dilihat pada bab pembahasan.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan maloklusi ?
2. Apa yang dimaksud dengan gigi berdesakan atau crowding teeth?
3. Apa faktor-faktor penyebab gigi berdesakan atau crowding teeth?
4. Apa dampak negatif yang dapat terjadi bila seseorang menderita gigi berdesakan crowding teeth?
5. Bagaimana pencegahan mengenai gigi berdesakan atau crowding teeth?
6. Bagaimana cara perawatan gigi berdesakan atau crowding teeth?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari oklusi.
2. Mengetahui pengertian dari gigi berdesakan atau crowding teeth.
3. Mengetahui faktor penyebab gigi berdesakan atau crowding teeth.
4. Mengetahui dampak negatif yang ditimbulkan bagi penderita gigi berdesakan atau crowding teeth.
5. Mengetahui tindakan pencegahan dan perawatan untuk gigi berdesakan atau crowding teeth.


























BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Maloklusi
Maloklusi merupakan ketidakteraturan gigi-gigi diluar ambang normal. Maloklusi sendiri dapat meliputi ketidakteraturan local dari gigi-gigi malrelasi pada tiap ketiga bidang ruang-sagital, vertical atau tranversal. (Houston, W.J.B,1989). Klasifikasi maloklusi menurut Edward Angle dibagi dalam tiga kelas, yaitu:
1. Klas I angle (Netroklusi)
Pada maloklusi ini patokannya diambil dari hubungan molar pertama atas dengan molar pertama rahang bawah. Bila molar pertama atas atau molar pertama bawah tidak ada maka kadang-kadang dilihat dari hubungan kaninus rahang atas dan rahang bawah.
Menurut Devey,klas I ini dibagi menjadi 5 tipe :
a. Klas I tipe 1 : bonjol mesiobukal cusp molar pertama atas terletak pada garis bukal molar pertama bawah dimana gigi anterior dalam keadaan berjejal (crowding dan kaninus terletak lebih ke labial.
b. Klas I tipe 2 : hubungan molar pertama atas dan bawah normal dan gigi anterior dalam keadaan protusif.
c. Klas I tipe 3 :hubungan pertama molar pertama atas dan bawah normal tetapi terjadi gigitan bersilang anterior.
d. Klas I tipe 4 : hubungan pertama molar atas dan bawah normal tetapi terjadi gigitan bersilang posterior.
e. Klas I tipe 5 : hubungan molar pertama normal, kemudian pada gigi posterior terjadi migrasi kearah mesial.
2. Klas II Angle
Sehubungan bonjol mesiobukal cusp molar pertama atas lebih anterior dari garis bukal molar pertama bawah. Juga apabila bonjol mesial cusp molar pertama atas bergeser sedikit ke anteriordan tidak pada garis bukal pertama atas melewati bonjol mesiobukal molar pertama bawah.
Pada maloklusi ini hubungan kaninusnya bervariasi yaitu kaninus bisa terletak diantara insisif lateral dan kaninus bawah.pada umumnya kelainan ini disbabkan karena kelainan pada tulang rahang atau maloklusi tipe skeletal.
Menurut dewey, klas II Angle ini dibagi dalam dua divisi, yaitu:
a. Divisi I : hubungan antara molar pertama bawah dan molar pertama atas disoklusi dan gigi anterior adalah protusif. Kadang-kadang disebabkan karena kecilnya rahang bawah sehingga profil pasien terlihat seperti paruh burung.
b. Divisi 2 : hubungan antara molar pertama bawah dan molar pertama atas disoklusi dan gigi anterior seolah-olah normal tetapi terjadi deep bite dan profil pasien seolah-olah normal.
3. Klas III Angle (mesioklusi)
Disini bonjol mesiobukal cusp molar pertama atas berada lebih ke distal atau melewati bonjol distal molar pertama bawah, atau lebih kedistal sedikit saja dari garis bukal molar pertama bawah. Sedangkan kedudukan kaninus biasanya terletak diantara premolar pertama dan kedua bawah. Klas III ini disebut juga tipe skeletal.
Menurut dewey, klas III Angle ini dibagi dalam tiga tipe, yaitu:
a. Klas III tipe 1 : hubungan molar pertama atas dan bawah mesioklusi sedang hubungan anterior insisal dengan insisal (edge to edge).
b. Klas III tipe 2 : hubungan molar pertama atas dan bawah mesioklusi,sedang gigi anterior hubungannya normal.
c. Klas III tipe 3 : hubungan gigi anterior seluruhnya bersilang (cross bite) sehingga dagu penderita menonjol kedepan. (Hambali, Tono,1985)

2.2 Pengertian Gigi Berdesakan Atau Crowding Teeth
Gigi berdesakan atau crowding teeth merupakan akibat maloklusi yang disebabkan oleh tidak proporsionalnya dimensi mesiodistal secara keseluruhan dari gigi geligi dengan ukuran maksila atau mandibula, sehingga akan mengakibatkan perubahan lengkung gigi. (Harty, F. J dan R Oyston,20002) .
Gigi berdesakan atau crowding secara umum dapat dikatakan sebagai suatu keadaan dimana terjadi disproporsi antara ukuran gigi dan ukuran rahang dan bentuk lengkung. Tiga keadaan yang memudahkan lengkung gigi menjadi berdesakan adalah lebar gigi yang besar, tulang basal rahang yang kecil atau kombinasi dari gig yang lebar dan rahang yang kecil. Dalam penelitian ditemukan bahwa pada kasus dengan gigi yang lebih kecil, daripada kasus tanpa atau sedikit gigi berdesakan.
Usia dimana gigi bertambah berdesakan adalah usia antara 13-14 tahun, dan kemudian mungkin akan berkurang. Dalam penelitian ditemukan gigi berdesakan terbanyak ditemukan pada usia 9 tahun, sedangkan peneliti lain menemukannya pada usia 12-13 tahun. Peneliti menghubungkan timbulnya masalah ini dengan adanya perubahan pada individu selama selama proses perkembangan. Keadaan gigi berdesakan pada akhir masa pertumbuhan dapat terjadi pada individu yang pada mulanya mempunyai lengkungan gigi yang baik dan keadaan ini akan bertambah parah jika sejak awal usia pertumbuhan keadaan giginya telah berdesakan.
(http://itakurnia.blogspot.com, diakses 3 September 2009, pukul 16.09 WIB)
Tiga teori utama untuk menghitung crowding ditentukan oleh:
1. Kekurangan “atnisi normal” pada makanan modern. Jika sebuah pemendekan dan lengkung panjang dan sebuah migrasi mesial dan molar dan tetaplah sebuah gejala alami. Hal itu akan terlihat beralasan bahwa Crowding akan berkembang jika banyaknya struktur banyaknya gigi tidak dikurangi selama tahap akhir perkembangan.
2. Tekanan dad molar 3. Akhir crowding berkembang pada kira-kira saat molar 3 akan erupsi.
3. Pertumbuhan mandibula yang terlambat sebagai sebuah hasl dari gradient capalocaudal dari pertumbuhan. Mandibula dapat tumbuh dan bekerja lebih fokus pada akhir remaja dibandingkan dengan maksila.( Prijatmoko, Dwi, dkk.2002)

2.3 Faktor-Faktor Penyebab Gigi Berdesakan Atau Crowding Teeth
Faktor-faktor yang menyebabkan gigi berdesakan pada rongga mulut dibagi menjadi 2 antara lain adalah sebagai berikut:
A. Penyebab tidak langsung
1. Faktor genetik.
Gigi berjejalan berhubungan erat dengan genetika karena banyaknya maloklusi yang disebabkan oleh faktor keturunan. Misalnya : pada pria yang mempunyai gigi dan rahang besar menikah dengan wanita yang gigi dan rahangnya kecil, maka anaknya memiliki gigi yang berjejal-jejal. Hal ini disebabkan gigi dari ayahnya dan lengkung rahang dari ibunya tidak serasi. .(Salzman, J. A, 1957)
2. Faktor skeletal
Faktor skeletal yaitu bentuk tulang di rahang atas dan rahang bawah yang mempengaruhi bentuk wajah, seperti bentuk rahang atas yang menonjol ke depan sehingga gigi-gigi tampak maju dan bentuk wajah menjadi cembung. Atau sebaliknya rahang bawah yang lebih pesat pertumbuhannya dibandingkan rahang atas, sehingga bentuk wajah menjadi cekung, dan terjadi gigitan terbalik.
3. Faktor kongenital
Pertumbuhan dan perkembangan juga mempengaruhi keadaan gigi anak sejak dalam kandungan yang disebut kelainan congenital. Dengan kata lain kelainan congenial adalah kelainan yang disebabkan oleh gangguan yang dialami bayi sewaktu masa kehamilan. Kelainan congenital ini disebabkan karena :
 Faktor keturunan
 Gangguan nutrisi, missal gangguan nutrisi pada ibu.
 Kelainan endokrin
 Gangguan nutrisi pada bayi dalam kandungan
 Penyakit.(Salzman, J. A, 1957)
 Gangguan mekanik, misalnya truma sewaktuibu hamil yang bersifat fisik misalnya terjatuh. Hal ini bisa terjadi pada kehamilan ketiga dimana procesus maksilaris kiri dan kanan belum bertemu dan kemudian terjadi trauma, pada saat ini maka si anak yang lahir akan mengalami cacad sepert cleft lip dan palatoschisis. .(Salzman, J. A, 1957)
 Radiasi yang berlebihan pada wanita hami, misalnya terkana sinar-X atau sinar inframerah lainnya. Sinar-sinar ini mempunyai efek terhadap sel-sel yang masih muda.(Salzman, J. A, 1957)
4.Gangguan keseimbangan kelenjar endokrin
 Kelenjar endokrin berfungsi menghasilkan hormon dalam tubuh untuk mengatur pertumbuhan dan perkembangan. Termasuk ini adalah kelenjar pituitary, thyroid dan parathyroid. Apabila ada kelainan pada kelenjar-kelenjar tersebut, maka dapat terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan tubuh termasuk rahang dan gigi. .(Salzman, J. A, 1957)

5. Penyakit
misalnya penyakit thalasemia.anak talasemia mengalami hambatan tumbuh kembang fisik (berat dan tinggi badan kurang) serta hambatan pertumbuhan tulang penyangga gigi. Rahang bawah pendek sehingga muka bagian atas tampak maju. Pertumbuhan vertikal juga terganggu sehingga tampak divergen, muka lebih cembung. Wajah tidak proporsional, pipi lebih tinggi, jarak kedua mata lebih lebar.
B. Penyebab langsung
1. Gigi susu yang tanggal sebelum waktunya
Gigi sulung tanggal sebelum waktunya yang disebabkan oleh karies . Kemudian pada usia 6 tahun, molar pertama sudah mulai tumbuh. Jika molar kedua sulung sudah mulai tumbuh. Jika molar kedua sulung sudah hilang karena terpaksa dicabut sehingga tempatnya akan terisi molar pertama tetap dan inklinasi. Molar pertama tetap miring kemesial, maka gigi premolarpertama dan kedua yang akan tumbuh tidak mempunyai tempat karena sudah terisi oleh molar pertama tetap, akibatnya gigi premolar pertama dan kedua akan bereupsi diluar lengkung gigi. Maka oleh karena itu penting mencegah tanggalnya gigi sulung sebelum waktunya. (Houston, W. J. B,1989)
2. Gigi yang tidak tumbuh/tidak ada.
Molar ketiga biasanya tidak ada tetapi tidak selalu menimbulkan maloklus. Premolar kedua atau insisivus kedua atas pada 5 % anak tidak terbentuk. Tentu saja keadaan ini penting secara ortodontidan harus diputuskan apakah ruang harus diganti atau diganti dengan protesa.(Houston, W. J. B,1989)
Apabila memang gigi tidak terbentuk . maka lengkung gigi dan rongga mulutnya terdapat ruangan kosong sehingga tampak celah antara gigi (diastema).
3. Gigi yang berlebih (supernumeri teeth)
Gigi supernumeri sering ditemukan didekat garis tengah rahang atas atau dikenal dengan sebutan mesiodens. Gigi ini dapat menghalangi erupsi atau menggeser insisivus pertama tetap. Gigi mesioden tersebut timbul dalam lengkung gigi, akan menyebabkan gigi berjejal (crowding). .(Houston, W. J. B,1989)
4. Tanggalnya gigi tetap
Tanggalnya gigi tetap karena trauma,karies atau penyakit periodontal berakibat buruk terhadap oklusi.keadaan ini dapat menimbulkan kelainan oklusi jika gigi-gigi tersebut dicabut setelah usia 10 tahun. Penutupan ruang teutama pada rahang bawah yang tidak memuaskan akan mengakibatkan gigi-gigi di sekitar daerah pencabutan akan tumbuh miring. (Houston, W. J. B,1989).
5. Gigi susu tidak tanggal walaupun gigi tetap penggantinya telah tumbuh (persistens)
Gigi persistensi yaitu gigi sulung yang belum tanggal pada waktunya sehingga gigi tetap yang akan bereupsi mulai muncul keluar kemudian gigi tetap yang akan bererupsi mulai muncul keluar kemudian gigi tetap ini akan mencari arah dicabut, karena kalau tidak dicabut karena kalau tidak dicabut akan menimbulkan maloklusi pada gigi penggantiannya.
6. Bentuk gigi tetap tidak normal
Bentuk gigi tetap tidak normal.maksudnya bentuknya gigi tidak teratur yaitu ada yang besar dan ada yang kecil. Jika gigi yang tumbuh besar dan rahangnya kecil maka gigi tumbuh berdesakan, kemudian apabila gigi yang tumbuh kecil rahangnya besar maka akan mengakibatkan gigi tersusun diastema. .(Houston, W. J. B,1989)
7. Kebiasaan-kebiasaan buruk.
Ini biasanya terjadi pada masa pertumbuhan dan biasanya ini sulit sekali dihindari, kebiasakan buruk itu antara lain :
o Menghisap jari
Kebiasaan ini biasanya erjadi pada seseorang anak yang disebabkan oleh adanya rasa tidak puas, karena anak mendapatkan makanan atau minuman yangselalu terlambat atau anak sering dimarahi orang tuanya , sehingga mencari kompensasi lain seperti mengisap jari.
Akibat yang ditumbulkan adalah timbulnya tekanan pada daerah palatum bagian anterior sehingga merangsang pertumbuhan prosesus alveolaris ke anterior sehingga akan mengakibatkan inklinasi daripada gigi insisi condong kedepan (labial atau protusif). Kebiasaan menghisap jari ini juga dapat mengakibatkan berbagai maloklusi, yaitu klas I Angle dengan open bite, maloklusi klas II Angle divisi 1, dan klas III Angle dimana mandibulatertarik kedepan oleh jari-jari yang dihisap. (Salzman, J. A, 1957)
o Kebiasaan meletakkan lidah di antara gigi rahang atas dan gigi rahang bawah.
Hal ini diakibatkan oleh karena penderita mempunyai kebiasaan menelan yang salah. Juga dapat terjadi akibat adanya kelainan dari lidahnya sendiri, misalnya terjadi makroglosi sehingga gigi terdorong ke anterior. (Salzman, J. A, 1957)
o Menggigit pensil atau membuka jepit rambut dengan gigi.
Terkadang anak-anak di saat belajar mempunyai kebiasaan menggigit pensil atau pulpen, hal ini dapat menyebabkan gigi yang dipakai menggigit tadi akan keluar dari lengkung gigi yang benar. Juga dapat terlihat terjadinya keausan pada salah satu gigi anterior yang sering terkena benda keras tersebut sehingga menyebabkan terjadi rotasi atau labioversi gigi tersebut. Keadaan yang sama bisa terjadi pada keadaan menggigit kuku. .(Houston, W. J. B,1989)
Bila kita melihat pasien dengan pada salah satu gigi anterior yang sering terjadi rotasi atau labioversi gigi tersebut. Maka kita bisa menerka secara langsung penyebabnya ialah pasien senang menggigit benda keras. .(Houston, W. J. B,1989)
o Kebiasaan ngedot yang sulit dihentikan, misalnya sampai usia Sekolah Dasar masih ngedot, hal ini cenderung akan mempengaruhi bentuk rahang si anak. Susu dari botol yang diminum oleh bayi melaui cara mengisap ini kan memproduksi akibat yang negative yaitu dapat mengkerutkan pipi dan menekan rahang. Kemudian efek dari hal tersebut akan mengakibatkan rahang atas tertarik kedepan, membuat tinggi palatum dan septum nasal dan dapat mengakibatkan pengurangan ukuran lateral dari palatum. .(Houston, W. J. B,1989)
o Kebiasaan bernafas melalui mulut
Hal ini umumnya disebabkan oleh karena :
a. Anomali dari perkembangan dan morfologi pernapasan melalui hidung.
b. Infeksi, tumor pada hidung serta terjadi polip.
c. Terjadi trauma pada hidung.
d. Kurangnya udara yang masuk melalui hidung membuat penting untuk bernapas melalui mulut.
e. Faktor genetik.
Karena faktor-faktor diatas maka pasien berusaha untuk mendapatkan udara semaksimal mungkin melalui mulut. Akibatnya pertumbuhan sinus maksilaris ke arah lateral terganggu sedang kearah anterior tidak terganggu dan terlihat palatum menjadi tinggi dan sempit, mukosa mulut menjadi kering dan gigi anterior menjadi protusif.
Pengaruh ini biasanya terjadi pada rahang atas dan mempengaruhi pertumbuhan otot-otot. Yaitu terlihat jelas pada pasien dengan klasifikasi Angle kals II divisi 1.
o cara menelan yang salah.
Akibat dari umumnya menimbulkan kebiasaan mendorong dengan lidah sehingga terlihat pada gigi pasien adalah labioversi dan kadang-kadang terjadi openbite.
o Kebiasaan menggigit bibir
Umumnya terjadi akibat defek psikologis pada seseorang anak sehingga ia mencari suatu kompensasi lain yaitu denan menggigit bibir atas atau bawah. Akibat dari menggigit bibir atas yaitu maka terlihat pada gigi incisive condong kelabial. Akibat menggigit bibirbawah maka terlihat gigi rahang atas condong kelabial.
( http://www.dentalarticles.com, diakses tanggal 3 September 2009, pukul 20.34 WIB)

2.4 Dampak Negatif Yang Dapat Terjadi Bila Seseorang Menderita Gigi Berdesakan Crowding Teeth
Berbagai dampak negatif yang ditimbulkan karena gigi berdesakan antara lain, yaitu :
1. Menimbulkan cacat muka, sehingga estetik jelek dan dapat mengakibatkan rasa rendah diri dan percaya diri berkurang.
2. Kesehatan gigi dan mulut akan terganggu, misalnya : suatu keadaan gigi yang berjejal-jejal akan memudahkan terjadinya suatu impaksi dari sisa makanan sehingga makanan sehingga akan menimbulkan karies gigi.
3. Fungsi pendengaran bisa mendapat gangguan. Misalnya : pada oklusi yang dagunya dimajukan kedepan, apabila gigitan dilakukan terus-menerus akan menimbulkan gangguan sendi rahang, hal ini mengakibatkan fungsi alat pendengaran terganggu.
4. Fungsi pengunyahan dapat terganngu karena terjadi maloklusi jadi terjadi gangguan pada gigi-gigi yang saling berhubungan.
5. Fungsi bicara dapat terganggu misalnya biasanya pada penderita gigi berdesakan ini mengalami displsia memang ini tidak terjadi pada semua orang, jadi jika pasien mengalami dysplasia maka ia akan kesulitan untuk melafalkan beberapa huruf tertentu. Huruf-huruf itu akan terdengar tidak sejelas apabila dilalkan orang yang normal
6. Dapat mengakibatkan penyakit periodontal karena penimbunan sisa makanan dan kesulitan pembersihan.
7. Dapat engakibatka kerusakan pada gigi-gigi.
( http://www.dentalarticles.com, diakses tanggal 3 September 2009, pukul 20.34 WIB)
2.5 Cara Pencegahan Mengenai Gigi Berdesakan Atau Crowding Teeth
Untuk mencegah gigi berdesakan ataupun maloklusi pada pengertian yang benar, ini akan menjadi suatu hal yang penting untuk memberikan pengetahuan tentang pengertian faktor etiologi dari maloklusi serta crowding teeth tersebut. Selain itu kesadaran, kemampuan yang dimiliki oleh seseorang tentang faktor genetic yang terjadi pada keluarga besar sebelumnya juga dapat dijadikan acuan untuk mengontrol pertumbuhan serta perkembangan dan fungsi-fungsi organ pada saat Prenatal, kongenital maupun post natal agar terhindar dari sesuatu yang tidak diinginkan. Dengan kata lain untuk mencegah terjadinya kelainan-kelainan yang tidak diharapkan. (http://en.wikipedia.org/wiki/Malocclusion, diakses tanggal 5 September 2009, pukul 11.25 WIB)
Kemudian pengawasan terhadap kebiasaan anak-anak juga penting untuk diamati, khususnya bagi para orang tua harus dapat menontrol dan mengawasi lingkungan dimana anak-anaknya tumbuh. Kewajiban orangtua untuk memperhatikan anaknya untuk tidak melakukan kebiasaan buruk juga mendukung pencegahan terjadinya maloklusi maupun gigi berdesakan. Karena maloklusi dan gigi berdesakan ini dapat dicegah sebelum terjadi. (Hambali, Tono, 1986).

2.6 Cara Perawatan Gigi Berdesakan Atau Crowding Teeth
Perawatan Crowding teeth tidak lepas dari perawatan ortodonsi. Perawatan orthodonsi ini menggunakan semacam kawat. Kawat ortodonsi ini adalah suatu alat atau piranti yang digunakan untuk memperbaiki susunan gigi yang crowded, sesak, atau tidak teratur, agar didapatkan susunan gigi yang baik atau normal kembali. Tujuan perawatan ortodonsi adalah untuk mendapatkan oklusi (hubungan antara gigi-gigi di rahang atas dan rahang bawah) yang tepat atau baik, yang sehat secara fungsional, estetik memuaskan dan stabil. (http://www.orthodonticslimited.com/orthodontic_treatment/crowding_spacing_teeth.html, diakses tanggal 5 September 2009, pukul 11.00 WIB). Perawatan orthodonti ini pastinya menggunakan alat –alat (pesawat) yang mendukung prosesnya agar berjalan lancar. Macam-macam pesawat orthodonti dapat dilakukan dengan menggunakan dua macam alat :
1. Pesawat lepasan (removable appliance) terdiri dari pelat akrilik dengan kawat retensi (cangkolan) serta spring-spring dan kadang-kadang dilenkapi dengan sekrup.
2. Pesawat tetap (fixed appliance), tidak seperti halnya pesawat lepasan dapat dibuka atau dilepas oleh pasien, pesawat tetap tidak dapat dilepas atau dipasang sendiri oleh pasien tetapi harus oleh operator atau dokter gigi. Pemasangan pesawat tetap ini tidak dapat dilakukan oleh semua dokter gigi kecuali oleh dokter gigi yang telah mendapatkan pendidikan khusus dibidang “Fixed appliance”. Alat ini popular dipakai diamerika dan dijepang. (Hambali, Tono, 1986)
 Pesawat ortodonti tetap ini terdiri atas :
1. Band yang bersifat stainless teel yang dilekatkan pada masing-masing gigi dan dipatri. Melekatnya pada gigi adalah dengan cara disemen pada setiap gigi
2. “brecket”, alat ini ditempelkan pada Band dengan cara disolder yang gunanya adalah dilewati oleh kawat labial atau dengan yang lebih kecil.
3. Kawat yang dilengkungkan dengan ideal yang dinamakan busur labial. Sifat kawat ini elastic sehingga menimbulkan tekanan terhadap gigi yang malposisi. (Hambali, Tono, 1986)
Selain perawatan orthodonsi menghilangkan crowding teeth ini juga bisa dengan cara pencabutan yang disebut pencabutan serial. Pencabutan serial merupakan teknik dimana dengan mencabut gigi susu dan gigi tetap tertentu (pada waktu tertentu) dapat mengurangi crowding dengan mmanfaatkan pergerakan gigi spontan sehingga tidak diperlukan perawatan ortho. Prosedur keseluruhan harus dibatasi pada maloklusi kelas 1 dengan crowding dan seluruh gigi ada, sehat serta berada dalam posisi menguntungkan. .(Houston, W. J. B,1989)
Selain pencabutan serial dilakukan perlu tetap diingat bahwa pemeriksaan yang menyeluruh telah dilakukan pada setiap tahap untuk memastikan bahwa cara ini masih merupakan rencana yang tepat untuk pasien. Tetapi cara ini masih mempunyai banyak kekurangan :
1. Anak harus menghadapi cabut gigi berapa kali.
2. Kaninus bawah tetap dapat tumbuh terlebih dahulu daripada premolar pertama sehingga menjadi impaksi antara kaninus dan molar kedua susu, hal ini menyebabkan kesulitan dalam pencabutan. .(Houston, W. J. B,1989)







BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dipaparkan diatas maka dapat disimpulkan :
1. Maloklusi merupakan ketidakteraturan gigi-gigi diluar ambang normal. Maloklusi sendiri dapat meliputi ketidakteraturan local dari gigi-gigi malrelasi pada tiap ketiga bidang ruang-sagital, vertical atau tranversal.
Klasifikasi maloklusi menurut Edward Angle dibagi dalam tiga kelas, yaitu:
1. Klas I angle (Netroklusi), menurut Devey,klas I ini dibagi menjadi 5 tipe.
2. Klas II Angle, menurut devey, klas II Angle ini dibagi dalam dua divisi.
3. Klas III Angle (mesioklusi), menurut dewey, klas III Angle ini dibagi dalam tiga tipe.
2. Gigi berdesakan atau crowding secara umum dapat dikatakan sebagai suatu keadaan dimana terjadi disproporsi antara ukuran gigi dan ukuran rahang dan bentuk lengkung. Tiga keadaan yang memudahkan lengkung gigi menjadi berdesakan adalah lebar gigi yang besar, tulang basal rahang yang kecil atau kombinasi dari gig yang lebar dan rahang yang kecil. Dalam penelitian ditemukan bahwa pada kasus dengan gigi yang lebih kecil, daripada kasus tanpa atau sedikit gigi berdesakan.
3. Ada banyak faktor yang mendukung terjadinya crowding teeth yaitu :
A. Penyebab tidak langsung
1. Faktor genetik.
2. Faktor kongenital
3. Gangguan keseimbangan kelenjar endokrin
4. Penyakit
B. Penyebab langsung
1. Gigi susu yang tanggal sebelum waktunya
2. Gigi yang tidak tumbuh/tidak ada.
3. Gigi yang berlebih
4. Tanggalnya gigi tetap
5. Gigi susu tidak tanggal walaupun gigi tetap penggantinya telah tumbuh (persistens)
6. Bentuk gigi tetap tidak normal.
7. Kebiasaan-kebiasaan buruk.
4. Berbagai dampak negatif yang ditimbulkan karena gigi berdesakan antara lain, yaitu :
 Menimbulkan cacat muka, sehingga estetik jelek dan dapat mengakibatkan rasa rendah diri dan percaya diri berkurang.
 Kesehatan gigi dan mulut akan terganggu.
 Fungsi pendengaran bisa mendapat gangguan
 Fungsi pengunyahan dapat terganngu karena terjadi maloklusi jadi terjadi gangguan pada gigi-gigi yang saling berhubungan.
 Fungsi bicara dapat terganggu.
 Dapat mengakibatkan penyakit periodontal.
 Dapat engakibatka kerusakan pada gigi-gigi.

5. Untuk mencegah terjadinya gigi berdesakan adalah dengan cara menghilangkan etiologi penyebeb gigi berdesakan tersebut.
6. Perawatan Crowding teeth tidak lepas dari perawatan ortodonsi. Perawatan orthodonsi ini menggunakan semacam kawat. Kawat ortodonsi ini adalah suatu alat atau piranti yang digunakan untuk memperbaiki susunan gigi yang crowded, sesak, atau tidak teratur, agar didapatkan susunan gigi yang baik atau normal kembali
Selain perawatan orthodonsi menghilangkan crowding teeth ini juga bisa dengan cara pencabutan yang disebut pencabutan serial. Pencabutan serial merupakan teknik dimana dengan mencabut gigi susu dan gigi tetap tertentu (pada waktu tertentu) dapat mengurangi crowding dengan memanfaatkan pergerakan gigi spontan sehingga tidak diperlukan perawatan ortho.
3.2 Saran
Dengan merujuk adanya gigi yang berdesakan. Sebaiknya para orangtua seharusnya mengajarkan pada anak-anaknya untuk menghindari penyebab terjadinya crowding teeth. Mengingat crowding teeth juga dapat dicegah maka perlu pengetahuan dini untuk anak-anak agar dapat menghindari faktor-faktor predisposisi dari crowding teeth. Kemudian bagi penderita crowding teeth yang parah hendaknya melakukan perawatan orthodontics supaya dapat memperbaiki oklusi serta bentuk wajah. Selain dengan perawatan ini, juga dapat dilakukan perawatan dengan cara pencabutan serial yaitu mencabut gigi-gigi sulung atau supernumeri teeth yang tidak diperlukan sehingga dapat mengurangi kepenuhan didalam mulut.

























DAFTAR PUSTAKA

Andlaw, R. J. 1992. Perawatan Gigi Anak. Jakarta : Widya Medika.
Hambali, Tono.1986. Diktat Kuliah Orthodonti II Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran. Bandung : YABINA FKG UNPAD
Harty, F. J dan R Oyston.20002. Kamus Kedokteran Gigi. Alih bahasa : drg narlan sumawinata
Houston, W. J. B1989. Diagnosis Orthodonti. Alih bahasa drg yuwono L. Jakarta : Hipokrates
http://www.metcalforthodontics.com/images/common_clip_image001.jpg&imgrefurl=http://www.metcalforthodontics.com/common.html&usg=__r4VKDy0YSETes-vESUiyGsBbI5Y=&h=164&w=250&sz=14&hl=id&start=145&um=1&tbnid=eEJR8jgHC9YbYM:&tbnh=73&tbnw=111&prev=/images%3Fq%3Dcrowding%2Bteeth%26ndsp%3D18%26hl%3Did%26client%3Dfirefox-a%26rls%3Dorg.mozilla:en-US:official%26sa%3DN%26start%3D144%26um%3D1, diakses tanggal 5 September 2009, pukul 11.30WIB
http://en.wikipedia.org/wiki/Malocclusion, diakses tanggal 5 September 2009, pukul 11.25 WIB
http://www.orthodonticslimited.com/orthodontic_treatment/crowding_spacing_teeth.html, diakses tanggal 5 September 2009, pukul 11.00 WIB
http ://www.pustaka.unpad.ac.id/wp-content/kesehatan_gigi_untuk_keluarga.pdf, diakses tanggal 5 september 2009, pukul 11.54 WIB
Koesomahardjo, Hamilah.1995. Survey Pelaksanaan Pencegahan Maloklusi Oleh Kesehatan Gigi Sekolah DKI Jakarta. Journal of the Indonesian dental association. Hal 55-61
Prijatmoko, Dwi, dkk.2002. Pertumbuhan Dan Perkembangan Kompleks Kraniofasial. (Cetakan I). Jember : fakultas kedokteran gigi press universitas jember
Salzman, J. A. 1957. Orthodontics Principal And Prevention. Philadelphia : J. B. Lippincott Company.
Susetyo, Budi. 1998. Praktek Othodonti Alat Cekat. Jakarta : Binarupa aksara.
Walter. 1990. Orthodonti Waltier. Alih bahasa : drg Llian Y. Jakarta : Hipokrates